ICEL

ICEL

Provinsi DKI Jakarta Butuh Perencanaan Pengelolaan Kualitas Udara Jakarta yang Progresif untuk Memperbaiki Kualitas Udara Jakarta

Jakarta, 14 Februari 2018. Urgensi untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta menjadi pesan utama yang disampaikan dalam seminar berjudul Kualitas Udara Jakarta: Amankah Bagi Kesehatan Kita dan Para Atlet Asian Games 2018 yang dilaksankan di Jakarta Pusat. Urgensi ini terlihat dari penyampaian materi dari para pembicara yang menunjukan kualitas udara Jakarta untuk parameter PM2.5 telah melampaui batas aman menurut WHO, yakni 25 mg/m3 untuk rata-rata per tahun. Stasiun pemantauan kualitas udara ambien milik Kedutaan Besar Amerika Serikat menunjukan parameter PM2.5 di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat pada periode bulan Juli – September 2016 dan 2017 telah melampaui angka 25 mg/m3. Kualitas udara Jakarta yang tidak sehat tersebut dikhawatirkan dapat terjadi pada saat Asian Games dihelat di Jakarta.

Komposisi kimia dari PM2.5 meliputi logam berat, sulfat, nitrat, dan karbon organik. Selain itu, hasil pemantauan parameter kualitas udara di Bundaran HI dan area Kelapa Gading menunjukan bahwa 75% dari PM10 terdiri dari PM2.5. Dari sisi dampak kesehatan masyarakat, dengan ukurannya yang sangat kecil dan juga komposisinya yang mengandung senyawa kimia yang berbahaya, PM2.5 merupakan pencemar udara yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit berbahaya seperti penyakit kardiovaskular, gangguan sistem saraf, serta kanker. Melihat karakteristik-karakteristik dari PM2.5 tersebut, Provinsi DKI Jakarta perlu menjadikan parameter PM2.5 sebagai parameter prioritas yang ditargetkan untuk mencapai konsentrasi di bawah batas aman WHO.

Baca SelengkapnyaProvinsi DKI Jakarta Butuh Perencanaan Pengelolaan Kualitas Udara Jakarta yang Progresif untuk Memperbaiki Kualitas Udara Jakarta

Masyarakat Terdampak Batubara Berbagi Pengalaman di Festival Musim Angin Barat

Jawa Tengah, 2-4 Februari 2018. Masyarakat Desa Roban Timur, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyelenggarakan Festival Musim Angin Barat (FMAB) pada hari Jumat sampai Minggu, 2-4 Februari 2018. Festival ini bertujuan untuk memberikan sarana bagi masyarakat yang tinggal di dekat rencana pembangunan dan/atau operasi tambang batubara dan PLTU-Batubara (PLTU-B) untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam upaya mereka memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Festival ini dihadiri kelompok masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi Kalimantan Timur, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.

FMAB diawali dengan perkenalan dari masing-masing kelompok masyarakat dan kondisi terkini rencana pembangunan dan/atau operasi tambang batubara dan PLTU-B di masing-masing daerah tempat tinggal para kelompok masyarakat. Ada kelompok masyarakat yang memiliki pengalaman terdampak operasi PLTU-B hampir sepuluh tahun dan diperparah dengan adanya rencana pembangunan PLTU-B baru. Ada juga kelompok masyarakat yang belum memiliki pengalaman terdampak operasi PLTU-B namun terancam dengan sudah dimulainya proses pembangunan PLTU-B. Kelompok masyarakat dari Kalimantan Timur menyampaikan ceritanya mengenai dampak pertambangan batubara terhadap kehidupan masyarakat di sana.

Baca SelengkapnyaMasyarakat Terdampak Batubara Berbagi Pengalaman di Festival Musim Angin Barat

Ancaman Pidana dalam RKUHP: Gegabah Merusak Harmonisasi?

Seruan untuk menghentikan pembahasan RKUHP di DPR kembali digaungkan dalam diskusi tentang Penyusunan Ancaman Pidana dalam RKUHP yang diadakan oleh STHI Jentera, Selasa 13 Februari 2018. Para pemateri yang terdiri dari akademisi menilai bahwa metode Delphi yang digunakan dalam penyusunan ancaman pidana RKUHP terlalu terburu-buru, rentan bias, dan tidak cermat. Metode Delphi adalah salah satu metode yang biasa digunakan dalam penelitian sosial untuk mendapatkan gambaran kolektif atas suatu isu. Namun, penggunaan metode ini untuk RKUHP ini dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya (dimulai pada Januari 2017 dan harus selesai secepat mungkin), oleh ahli yang merangkap sebagai tim perumus, dan tanpa mempertimbangkan data ataupun evaluasi praktik penegakan hukum pidana selama ini.

Baca SelengkapnyaAncaman Pidana dalam RKUHP: Gegabah Merusak Harmonisasi?

Data Restorasi agar Terbuka

Masyarakat membutuhkan informasi perkembangan dua tahun restorasi gambut pascakebakaran hutan dan lahan 2015. Pemerintah diminta membuka data dan peta terkait.

 

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah 20 kelompok masyarakat sipil dari 8 provinsi di Indonesia, dalam Simpul Jaringan Pantau Gambut, membangun kanal informasi daring sebagai dukungan pada restorasi gambut yang dikerjakan pemerintah dua tahun terakhir.

Kanal informasi dalam pantaugambut.id berisi antara lain peta perkembangan restorasi gambut untuk menjembatani upaya pemerintah yang belum menuntaskan kebijakan satu peta. Namun, data itu belum memasukkan perkembangan restorasi yang digarap di bawah supervisi Badan Restorasi Gambut (BRG) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Simpul Jaringan kesulitan mendapat data dan peta itu. Karena upaya restorasi belum dibuka ke publik, rasa memiliki terhadap pekerjaan besar membasahi kembali gambut jadi tak terbentuk. Temuan Simpul Jaringan, masyarakat awam di lokasi restorasi kerap tak mengetahui pengerjaan restorasi di daerahnya. Bahkan ada temuan, proyek restorasi hanya jadi pekerjaan kaum elite desa.

Muhammad Teguh Surya, Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan, Selasa (13/2), di Jakarta, mewakili 20 jejaring kelompok masyarakat sipil di 8 provinsi yang memiliki gambut, mengenalkan situs pantaugambut.id. Situs itu berisi peta, data, dan informasi terkait gambut dan restorasinya sebagai sarana kanal informasi bagi masyarakat terkait perkembangan restorasi gambut.(KOMPAS/ICHWAN SUSANTO)

Baca SelengkapnyaData Restorasi agar Terbuka

Atlet-atlet Asian Games Berisiko Terpapar Polusi

JAKARTA, KOMPAS — Penyelenggaraan Asian Games 2018 pada 18 Agustus-2 September 2018 membutuhkan udara bersih di Jakarta dan Palembang, Sumatera Selatan. Di Jakarta diperlukan terobosan khusus karena data indeks mutu udara dua tahun terakhir menunjukkan, saat itu udara Jakarta terpolusi debu atau PM2,5 pada rentang menengah hingga tak sehat.

Di Palembang, mutu udara periode itu aman karena di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mutu ini agar dijaga dengan memastikan tak ada kebakaran hutan dan lahan.

Di Jakarta, jika memakai standar WHO, hampir semua hari pada periode itu melewati standar WHO 25 mikrogram per milimeter kubik. Debu halus ini berbahaya karena bisa mencapai paru-paru sampai pembuluh darah sehingga memicu berbagai penyakit berbahaya.

Baca SelengkapnyaAtlet-atlet Asian Games Berisiko Terpapar Polusi

Teknologi Kendali Emisi Bisa Diterapkan

Lanskap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, Merak, Banten, Kamis (19/5/2017). PLTU yang berkapasitas lebih dari 4.000 megawatt tersebut telah menggunakan pembangkit dengan teknologi ramah lingkungan yang mampu menangkap limbah debu batubara.

Proyek PLTU batubara yang belum memasuki tahap konstruksi masih bisa dibatalkan. Investasinya bisa dialihkan untuk memasang teknologi pengontrol emisi di PLTU batubara yang ada.

 

JAKARTA, KOMPAS — Prediksi kelebihan suplai listrik pada grid Bali-Jawa bisa menjadi faktor untuk mengalihkan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara kepada teknologi pengendali emisi udara. Langkah ini bisa lebih bermanfaat bagi kualitas ambien udara serta mencegah jebakan kerugian di masa depan akibat pembangunan pembangkit listrik yang kotor dan mahal.

Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara (PLTU batubara) mahal karena harga batubara terus melambung. Harga batubara acuan (HBA) periode Januari 2018 sebesar 95,54 dollar AS per ton atau naik 1,6 persen dibandingkan HBA Desember 2017 yang sebesar 94,04 dollar AS per ton. Kemudian, HBA Januari 2018 lebih tinggi ketimbang HBA Januari 2017 yang sebesar 86,23 dollar AS per ton (Kompas ,5 Februari 2018).

Padahal, 60 persen pembangkit yang dioperasikan PLN menggunakan batubara sebagai sumber energi primer. ”Jadi, terbukti PLTU yang berasal dari energi fosil batubara ini tidak murah seperti paradigma yang dibangun selama ini,” kata Bondan Andriyanu, pengampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Minggu (11/2), di Jakarta.

Baca SelengkapnyaTeknologi Kendali Emisi Bisa Diterapkan

Pemerintah Akan Ubah Batas Emisi Proyek Listrik

Pembangunan Konstruksi PLTU Suralaya Unit 8 dan 9

 

JAKARTA. Sepucuk surat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) tanggal 12 Januari 2018 berpotensi mengubah skema investasi proyek setrum di dalam negeri. Pasalnya, surat tersebut menyoal rencana penurunan batas emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Surat yang diteken oleh M.R. Karliansyah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK tersebut adalah balasan atas surat WALHI tanggal 20 Desember 2017. Surat tersebut menyebutkan,  pada prinsipnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN dan perusahaan pembangkit mendukung rencana penurunan emisi pembangkit dengan cara mervisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) 21/2008.

Baca SelengkapnyaPemerintah Akan Ubah Batas Emisi Proyek Listrik

Fase Penutupan PLTU Tua agar Mulai Disiapkan

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah diminta memikirkan fase penutupan pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap lama yang sulit dikendalikan buangan emisinya. Itu sebagai jalan tengah bagi pelaku industri yang kesulitan biaya investasi penerapan penurun emisi agar tak menambah beban pencemaran udara ambien dan paparannya pada lingkungan.

Selama ini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tua kesulitan menerapkan baku mutu emisi (BME) udara terkini karena ketinggalan teknologi. Penerapan BME perlu investasi tinggi sehingga membawa konsekuensi pada harga listrik.

Baca SelengkapnyaFase Penutupan PLTU Tua agar Mulai Disiapkan

Revisi Baku Mutu Emisi Pembangkit Listrik Tenaga Termal (PermenLH No. 21 Tahun 2008)

Salah sumber tidak bergerak yang cukup penting pengaruhnya terhadap kualitas udara adalah pembangkit listrik tenaga termal, khususnya PLTU Batubara. Peraturan yang sekarang berlaku untuk PLT termal adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Tenaga Listrik Termal. PermenLH No. 21 Tahun 2008 mengatur baku mutu emisi untuk PLTU (uap), PLTG (gas), PLTGU (gas dan uap), PLTD (diesel) dan PLTP (panas bumi).

PermenLH No. 21 Tahun 2008: Norma Terkini

BME PLTU Batubara Indonesia tergolong longgar, dimana PermenLH No. 21 Tahun 2008 menetapkan 2 (dua) standar berbeda untuk pembangkit baru dan lama, dengan ketentuan peralihan bagi pembangkit yang perencanaannya disusun sebelum ditetapkannya Permen No. 21 Tahun 2008 namun beroperasi setelahnya, sebagai berikut:

*) Ket: Lampiran A berlaku untuk pembangkit yang telah beroperasi sebelum ditetapkannya PermenLH No. 21 Tahun 2008; dan Lampiran B berlaku untuk pembangkit yang perencanaannya disusun dan beroperasi setelah penetapan Permen No. 21 Tahun 2008.

Baca SelengkapnyaRevisi Baku Mutu Emisi Pembangkit Listrik Tenaga Termal (PermenLH No. 21 Tahun 2008)