ICEL

ICEL

Surat HGB Pulau D Direvisi, Gugatan Reklamasi Bakal Sia-sia

Sejumlah aktivis Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta, di kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Selasa (15/8/2017). KSTJ mempertanyakan revisi SK HGB Pulau D yang baru diungkapkan yang mengancam kelanjutan gugatan reklamasi. (Foto: CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

 

Jakarta, CNN Indonesia — Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta (KTSJ) menyesalkan sikap Kantor Pertanahan Jakarta Utara baru mengaku perihal adanya revisi Surat Keputusan penerbitan Hak Guna Bangunan (HGB) Pulau D, Teluk Jakarta. Hal itu dapat membuat gugatan nelayan terhadap reklamasi terancam batal.

“Pihak Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Utara yang kemudian mengakui bahwa surat keputusan telah direvisi,” ujar Nelson Nikodemus Simamora, kuasa hukum KSTJ, seusai sidang lanjutan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Surat Keputusan penerbitan HGB Pulau D, di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, Jakarta Timur, Kamis (21/2).

Padahal, sidang gugatan sudah berjalan sekian lama. “Selama proses pemeriksaan pendahuluan Tergugat (Kantor Pertanahan) tidak pernah hadir untuk menyampaikan kebenaran obyek sengketa yang digugat Para Penggugat,” imbuh dia.

Baca SelengkapnyaSurat HGB Pulau D Direvisi, Gugatan Reklamasi Bakal Sia-sia

Teknologi Kendali Emisi Bisa Diterapkan

Lanskap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, Merak, Banten, Kamis (19/5/2017). PLTU yang berkapasitas lebih dari 4.000 megawatt tersebut telah menggunakan pembangkit dengan teknologi ramah lingkungan yang mampu menangkap limbah debu batubara. (Foto : Kompas)

Proyek PLTU batubara yang belum memasuki tahap konstruksi masih bisa dibatalkan. Investasinya bisa dialihkan untuk memasang teknologi pengontrol emisi di PLTU batubara yang ada.

 

JAKARTA, KOMPAS — Prediksi kelebihan suplai listrik pada grid Bali-Jawa bisa menjadi faktor untuk mengalihkan investasi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara kepada teknologi pengendali emisi udara. Langkah ini bisa lebih bermanfaat bagi kualitas ambien udara serta mencegah jebakan kerugian di masa depan akibat pembangunan pembangkit listrik yang kotor dan mahal.

Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara (PLTU batubara) mahal karena harga batubara terus melambung. Harga batubara acuan (HBA) periode Januari 2018 sebesar 95,54 dollar AS per ton atau naik 1,6 persen dibandingkan HBA Desember 2017 yang sebesar 94,04 dollar AS per ton. Kemudian, HBA Januari 2018 lebih tinggi ketimbang HBA Januari 2017 yang sebesar 86,23 dollar AS per ton (Kompas ,5 Februari 2018).

Padahal, 60 persen pembangkit yang dioperasikan PLN menggunakan batubara sebagai sumber energi primer. ”Jadi, terbukti PLTU yang berasal dari energi fosil batubara ini tidak murah seperti paradigma yang dibangun selama ini,” kata Bondan Andriyanu, pengampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Minggu (11/2), di Jakarta.

Baca SelengkapnyaTeknologi Kendali Emisi Bisa Diterapkan

Fase Penutupan PLTU Tua agar Mulai Disiapkan

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah diminta memikirkan fase penutupan pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap lama yang sulit dikendalikan buangan emisinya. Itu sebagai jalan tengah bagi pelaku industri yang kesulitan biaya investasi penerapan penurun emisi agar tak menambah beban pencemaran udara ambien dan paparannya pada lingkungan.

Selama ini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tua kesulitan menerapkan baku mutu emisi (BME) udara terkini karena ketinggalan teknologi. Penerapan BME perlu investasi tinggi sehingga membawa konsekuensi pada harga listrik.

Baca SelengkapnyaFase Penutupan PLTU Tua agar Mulai Disiapkan

Saat Legalitas Menjadi Semu

Regulasi bukanlah segala-galanya. Regulasi bukan penjaga utama lingkungan hidup. Alih-alih menjaga lingkungan hidup, dalam praktik, regulasi justru menjadi jalur legal tindak korupsi.

Judul paparan Guru Besar Ilmu Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor Hariadi Kartodihardjo dalam acara Outlook Lingkungan 2018 yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis (18/1), amat menggelitik: ”Institusi ’Pseudo-Legal’ Korupsi Perizinan”.

Hariadi dengan lugas membuka fakta yang dia serap dari pengalamannya di lapangan saat sepanjang 2012-2017 terlibat dalam Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GNPSDA) bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Guru besar yang lama bertungkus lumus dalam isu kehutanan itu secara terbuka menyatakan, ada semacam pseudo-legal (hukum yang semu).

Ada semacam dualisme. Urusan negara yang resmi, lengkap dengan beragam simbol negara, bisa masuk dijadikan urusan personal, menjadi hubungan antarorang.

Dari hubungan personal tersebut, ia menengarai munculnya beberapa tipe korupsi. Salah satunya revolving doors (pintu putar). Para pemain menjadi tidak jelas posisinya. ”Dia sebenarnya penyusun amdal, tetapi tiba-tiba bisa menjadi penilai amdal. Dalam posisi ini bisa terjadi suap di dalamnya,” ujarnya.

Baca SelengkapnyaSaat Legalitas Menjadi Semu

Langka Tindakan Nyata Terhadap Pencemar Citarum

Foto : MI/DEPI GUNAWAN

 

KOALISI Melawan Limbah yang terdiri atas Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidul Indonesia (Walhi), Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling), LBH Bandung, dan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menindak pencemar sungai Citarum.

“Langka sekali tindakan nyatanya untuk menindak perusahaan yang mencemari. Contohnya, ada 3 perusahaan yang gugatan TUN (Tata Usaha Negara)nya kami menangkan tapi tidak ditindak. Padahal dari sidak (inspeksi mendadak) kemarin, perusahaan tersebut masih mencemari,” ungkap pengampanye Urban dan Energi Walhi Dwi Sawung, di Jakarta, Kamis (1/2), terkait belum adanya tindakan terhadap perusahaan pencemar Sungai Citarum.

Baca SelengkapnyaLangka Tindakan Nyata Terhadap Pencemar Citarum

Pemerintah Siapkan Perpres Pembangkit Listrik dari Sampah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait pengelolaan sampah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (20/12).

 

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Pemerintah telah menyiapkan peraturan presiden pengganti Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA).

Menurut Menteri Kordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan,dalam Perpres tersebut, pemerintah memasukan tiga wilayah baru. Sehingga, ada sepuluh daerah yang didukung untuk melaksanakan percepatan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan. Tambahan wilayah tersebut, di antaranya Medan dan Bali yang didorong untuk menerapkan sistem pengolahan waste to energy tersebut.

Baca SelengkapnyaPemerintah Siapkan Perpres Pembangkit Listrik dari Sampah

Pengolahan Energi Terbarukan dari Sampah Adaptasi 3 Negara

BANDUNG,(PR).- Pemerintah telah menyiapkan peraturan presiden pengganti  untuk daerah yang melaksanakan percepatan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan.

Peraturan yang dimaksud yakni Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar. Sebelumnya peraturan itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA).

Demikian diungkapkan Menteri Kordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan di sela rapat kordinasi penanganan Citarum di Aula Barat, Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2018. Menurut dia, ada tambahan wilayah di antaranya Medan dan Bali yang didorong untuk menerapkan sistem pengolahan waste to energy tersebut.

“Formula sudah didapat, ada economic modelnya, variabel, bunga, dan besaran megawatt-nya,” ujar dia.

Baca SelengkapnyaPengolahan Energi Terbarukan dari Sampah Adaptasi 3 Negara

Menyorot Suara yang Tak Terdengar

Di Serang, Banten, warga petambak udang dalam 20 tahun terakhir menjadi saksi menurunnya kualitas air seiring dengan pembangunan pabrik tekstil di dekat daerah tersebut. Di Thailand, pada 2012 terjadi ledakan di pabrik Bangkok Synthetics yang menewaskan 11 orang dan melukai 129 orang. Disusul dengan bocornya limbah kimia di pabrik Aditya Birla Chemicals, 138 orang masuk rumah sakit. Pemerintah tidak memberi informasi apakah warga harus tinggal atau mengungsi.

Kasus lain, warga Desa Khoroo Nomor 13 di luar Ulaanbaatar, Mongolia, yang berkemah di daerah ini pada musim panas dan musim dingin kehilangan lima mata air dan harus mengebor air untuk mendapat air bersih. Sungai telah berubah berwarna abu-abu dan bau. Warga bergantung pada ternak dan berkebun sayur serta buah. Air bersih adalah segalanya.

Potret-potret tentang pencemaran dan ancamannya itu tertulis dalam laporan organisasi riset World Resources Institute (WRI) pada Agustus 2017 yang bertajuk ”Thirsting for Justice, Transparency and Poor People’s Struggle for Clean Water in Indonesia, Mongolia, and Thailand”.Di negara-negara itu, warga miskin di sepanjang aliran sungai menggunakan air sungai untuk mandi, memasak, mandi, serta keperluan peternakan dan bertani. Kondisi serupa di sepanjang DAS Citarum (Kompas, 4/1). Dalam penelitian itu, WRI menggandeng The Indonesian Center for Environmental Law, Walhi/Friends of The Earth Indonesia, dan MediaLink.

Baca SelengkapnyaMenyorot Suara yang Tak Terdengar

Sungai Citarum Bermasalah, LSM Desak Pemerintah Tindak Pemilik Industri

BANJIR LUAPAN SUNGAI CITARUM: Warga mengamankan gas elpiji saat banjir di Desa Bojong Asih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/12).(Foto: Ant/Raisan Al Farisi)

Jakarta, (Tagar 9/1/2018) – Pemerintah didesak sejumlah LSM untuk terus menangani masalah sampah, terutama limbah industri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, yang tidak kunjung menunjukkan kemajuan.

“Tidak ada gebrakan pemerintah. Sudah 30 tahun program di Citarum belum ada perkembangan, keadaannya masih seperti ‘itu-itu’ saja,” kata Dwi Sawung, Pengampanye Urban dan Energi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dalam diskusi lingkungan di Jakarta, Selasa (9/1).

Diskusi tersebut diikuti oleh Koalisi Melawan Limbah dan Masyarakat yang terdiri atas Greenpeace, Walhi, Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling), LBH Bandung, dan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL).

Baca SelengkapnyaSungai Citarum Bermasalah, LSM Desak Pemerintah Tindak Pemilik Industri

Pemulihan Harus Dimulai dari Penanganan Limbah Industri

Dari kiri, peneliti Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Margareta Quina, Pengampanye Urban dan Energi Walhi Dwi Sawung, dan Juru Kampanye Greenpeace Ahmad Ashov dalam diskusi media ”Memulihkan Citarum” di Walhi Eksekutif Nasional, Jakarta, Senin (8/1).

 

JAKARTA, KOMPAS — Upaya pemulihan Sungai Citarum yang saat ini tercemar harus dilakukan secara masif dan terencana.

Sejumlah pegiat lingkungan hidup menilai, pemulihan perlu dimulai dari limbah industri sebab pencemaran industri merupakan sumber pencemar yang relatif mudah dikontrol dan diawasi.

Pencemaran dan kerusakan lingkungan terjadi di sepanjang 279 kilometer (km) pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum selama puluhan tahun.

Kerusakan ini merugikan sekitar 20 juta warga di sekitar Sungai Citarum. Berbagai dampak buruk dirasakan, antara lain berdampak pada kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan keberlangsungan hidup lainnya.

Peneliti Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Margareta Quina, mengatakan, selama 30 tahun, berbagai program dan gerakan untuk mendukung restorasi Sungai Citarum belum memberikan dampak yang signifikan.

”Citarum tetap tercemar berat oleh limbah industri, sampah, dan limbah rumah tangga,” ujar Margareta dalam diskusi media yang diadakan Koalisi Melawan Limbah di Jakarta, Senin (8/1).

Koalisi Melawan Limbah merupakan gabungan pegiat lingkungan yang terdiri dari Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling), Lembaga Bantuan Hukum Bandung, dan ICEL.

Baca SelengkapnyaPemulihan Harus Dimulai dari Penanganan Limbah Industri