ICEL

ICEL

Cerita Perempuan Pejuang Energi dari Pelosok Negeri

Lima perempuan dari penjuru Indonesia meramaikan Pojok Energi yang diselenggarakan IESR pada hari Kartini, Jum’at, 21 April 2016. Dimoderasi Faby Tumiwa dari IESR, kelima Kartini modern ini menceritakan pengalamannya dalam perjuangan perempuan terkait dengan akses energi di masa kini.

Mama Seni, seorang ibu paruh baya dari Waingapu, Sumba, NTT, menceritakan pengalamannya merintis penggunaan biogas dari kotoran sapi, kerbau dan babi bersama dengan kelompok wanita Pane yang ia ketuai. Dimulai pada bulan Oktober 2015, Mama Seni mencoba memasang biogas di rumahnya untuk menggantikan kayu bakar dan minyak tanah yang pada saat itu merupakan bahan bakar rumah tangga utama.
“Tadinya saya pakai satu minggu 10 liter minyak tanah. Sekarang saya sudah pakai dua kompor dengan biogas, dan walaupun kompor mati satu, minyak tanah 10 L itu bisa saya pakai satu bulan,” ujar Mama Seni. “Selain itu, kami juga memakai bio slurry cair dan padat dari biogas. Dulu kami pakai pupuk kimia, 450 ribu (5 sak) per bulan, tanah kami yang dulunya sudah tandus sekarang sudah makin subur,” lanjutnya. Keuntungan ekonomi pun mereka rasakan tidak hanya dari penghematan biaya, namun juga naiknya harga hasil tani yang sekarang dihargai sebagai organik. Sekarang, selain mengkonsumsi sendiri, Mama Seni dan kelompoknya juga mempromosikan penggunaan biogas kepada masyarakat di luar kelompoknya yang berkunjung atau membeli hasil tani darinya.

Cerita lainnya datang dari Lembata, Ibu Rovina, yang desanya tidak mendapatkan listrik dari PLN. Ia kini menggunakan lampu tenaga surya hemat energi, yang dikenal sebagai lampu sehen, dan kemudian menjualnya hingga hampir 800 item. Peningkatan jumlah pengguna lampu ini diawali Ibu Rovina dengan mendatangi Bapak Kepala Desa untuk memberi tahu mengenai teknologi-teknologi ramah lingkungan, dan diterima kades yang kemudian mensosialisasikan teknologi tersebut. Selain lampu, Ibu Rovina juga menceritakan keuntungan mengenal filter, yang dapat menggantikan kayu bakar dalam mendapatkan air bersih. “Kami tidak lagi memasak air, kami pakai filter. Tadinya rasanya tidak enak, bau asap. Sekarang rasanya enak dan kerjanya cepat,” ujarnya.

Ibu Maritje Hutapea, Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan dari Direktur Jenderal EBT, Kementerian ESDM, yang telah 33 tahun menangani energi baru dan terbarukan, melengkapi perbincangan ini dari sisi makro. “Ini kita lihat, ini terkait sumber energi, misal kayu bakar yang digantikan dengan biogas, yang ternyata berdampak positif ke yang lain-lain. Misal, ada produk sampingan yang dapat dipakai untuk pertanian, bahkan sampai peningkatan ekonomi. Selain itu, masyarakat bisa melakukan sesuatu dengan lebih efisien. Inilah tugas kami dari ESDM, terutama di daerah-daerah perbatasan yang terkadang tidak mudah untuk mengirim energi modern,” ujarnya.

“Sekarang, ada 2.519 desa yang masih gelap. Ini merupakan kewajiban pemerintah, tapi perlu juga dicatat, kemampuan pemerintah dari segi budget juga tidak besar-besar amat. Karena itu, kami regulasi agar ada pihak-pihak swasta yang tertarik untuk berinvestasi,” lanjutnya. “Sekarang kurang lebih 1.000 KK yang sudah kami sambungkan dengan PLTS, terutama panel surya komunal,” ujarnya. “Tapi kami berharap listrik ini tidak hanya berguna untuk penerangan dan konsumsi, melainkan juga bisa dipakai untuk produksi, sepertk industri rumah tangga,” ujarnya.

Dr. Verania Andria menceritakan pengalamannya mengenai tantangan akses energi di daerah miskin dan tertinggal, utamanya bagi perempuan. “Dari lembaga donor sendiri, biasanya masalah perempuan dan energi ini dilihat secara lebih besar, menyasar kebijakan atau pencapaian Sustainable Development Goal,” ujarnya. “Namun, untuk lokasi sendiri, kami juga bisa dorong untuk menggunakan indikator kesuksesan yang melibatkan perempuan. Misal, tidak hanya berapa jumlah KK miskin yang mendapatkan energi, namun lebih spesifik lagi, berapa jumlah KK miskin di mana ada perempuan,” ujarnya. Rara juga berbagi pendekatan baru kelembagaan pengelolaan energi berbasis komunitas, di mana bentuk Perseroan Terbatas yang saham mayoritasnya dipegang masyarakat, dan sedikit saham dipegang swasta, yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan keberlanjutan energi berbasis masyarakat yang relatif cepat rusak dengan pola pengeloaan sebelumnya.

Sebuah paparan penuh data dan gambar dipaparkan oleh Sandra Winarsa dari Hivos, yang menceritakan perimbangan pekerjaan sehari-hari perempuan dibandingkan laki-laki, yang cukup timpang beban kerjanya. Di lain pihak, dalam pengambilan keputusan dan kepemilikan aset, suara perempuan justru minim dipertimbangkan. “Tampak bahwa dalam hal energi, ini kebanyakan beban fisik maupun ekonomi yang diambil dari kantong mama-mama. Ini kami analisis dengan sebuah tool, dan kami musyawarahkan dengan bapak-papak. Kemudian kita sepakati tugas apa yang bisa dilakukan bersama, bagaimana pembagian beban keuangannya, dan lain-lain,” ujarnya. Selain itu, Hivos juga memfasilitasi masyarakat untuk membuat kapal mimpi, di mana target, kepemilikan aset, pembagian tugas dalam mencapai target dicatat dengan detil. Kapal mimpi ini dimonitor secara rutin, dan juga akan dievaluasi secara berkala.

Dengan berbagai keuntungan yang sangat menarik dari energi terbarukan ini, menjadi pertanyaan mengapa justru cukup banyak pembangkit berbahan bakar fosil (i.e. diesel, batubara). Maritje menanggapi hal ini, “Ada beberapa hal yang menjadi kendala energi terbarukan, di mana biaya produksinya pada umumnya lebih tinggi dari energi fosil. PLN pasti tidak akan pernah meninggalkan kaidah-kaidah keekonomian, dan energi terbarukan masih sangat sulit sekali bersaing dengan bahan bakar fosil. Selain itu, EBT ini sifatnya intermitten, yang artinya tidak selalu ajeg pasokannya. PLN sangat khawatir dengan hal-hal seperti ini, karena PLN harus menjamin pasokan. Di lain pihak, EBT juga tidak bisa ditransportasikan seperti bahan bakar fosil, dan harus dibangun di sumbernya. Tapi, terkadang ini mengharuskan transmisi distribusi yang jauh. Dari sisi teknis, sistem jaringan PLN juga masih sangat rendah kemampuannya (max. 20%) untuk memfasilitasi EBT. Ini juga yang kami selalu tekankan ke PLN bahwa mereka harus memperbaiki jaringannya agar bisa menerima lebih banyak energi terbarukan. Yang terakhir dan paling berat adalah masalah mindset. Mungkin PLN midsetnya bukan energi terbarukan ya,” ujarnya.

Bagaimanapun, penting untuk mengingat bahwa jika dilihat dari sisi kebijakan, pemerintah sebetulnya menargetkan bauran energi 23% dari energi terbarukan pada tahun 2030, yaitu sebesar 45.000 MW. “Untuk mencapai hal ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, memperbaiki keekonomian dari EBT ini. Kedua, RUPTL sendiri baru masuk 20.000 MW dari target 45.000 MW, dan ini terus kami kawal. Ketiga, ini juga harus terus ditekankan kemanfaatannya, karena selain manfaat tadi, ada hal penting lain yaitu penurunan gas rumah kaca,” lanjut Maritje.

Perbincangan ini makin memperkuat keterkaitan perempuan dan energi. Dengan energi yang positif, dampak positif yang didapatkan perempuan semakin teroptimalkan. Namun juga perlu diingat, bahwa energi kotor juga beraspek gender dengan kerentanan dampak yang ditimbulkan bagi perempuan. Pembelajaran dari Sumba dan Lembata menginspirasi, namun menjadi tantangan kita untuk mereplikasi kesuksesan ini agar lebih banyak lagi energi yang dimotori oleh dan memberi keuntungan bagi para perempuan. [Margaretha Quina]