ICEL

ICEL

Elektronik Kita: Kanker dalam Industri Semikonduktor

Tidak terbayang di kepala Hwang Sang-gi bahwa bahwa anak gadisnya, Hwang Yumi, akan meninggal karena leukimia pada umur 22 tahun. Tidak pernah pula ia berpikir bahwa ia akan menuntut keadilan ke Pengadilan Tinggi Seoul untuk menghadapi raksasa industri elektronik tempat anaknya bekerja: Samsung.

Hwang Yumi merupakan salah satu dari gadis-gadis muda berusia 18-25 tahun yang dipekerjakan Samsung di pabrik semikonduktornya. Ia juga merupakan salah satu angka kematian terawal sebelum bermunculannya kasus-kasus penyakit terminal lain ke permukaan pada 2007. Profil pekerja yang dilakukan sebuah LSM lokal, Supporters of Health and Rights of People in the Semi-conductor Industry (SHARPs), pada 2016 setidaknya telah mendokumentasikan 224 pekerja yang mengalami berbagai penyakit, mulai dari leukimia, tumor otak hingga sklerosis ganda dan kemandulan. Dari 224 pekerja, 76 orang telah meninggal. Di tim Hwang Yumi sendiri, 7 dari 18 pekerja mengalami permasalahan kesehatan yang berat sebelum berumur 40 tahun.

Apa tepatnya bahan kimia yang mengakibatkan penyakit ini masih menjadi misteri. Bekerja di pabrik semikonduktor melibatkan ratusan bahan kimia, sebagian karsinogenik atau radioaktif, yang selain dampak individualnya juga mungkin bereaksi satu sama lain sebagai campuran. Detail mengenai bahan kimia yang terlibat dalam proses produksi pun masih enggan diberikan Samsung sekalipun pengadilan telah memerintahkan pemberian informasi berulang kali. Rahasia dagang menjadi tameng, baik sebagai bantahan dalam perkara pengadilan maupun dalam komunikasi publik. Yang kita ketahui sekarang adalah perangkat kesehatan dan keselamatan kerja yang disediakan bagi para pekerja semikonduktor ini sangat tidak memadai.

Tanpa informasi yang memadai, tidak hanya pembuktian kausalitas terbatas pada bukti statistikal dan pengambilan kesimpulan epidemiologi yang terbatas, namun intervensi berupa tindakan pencegahan menjadi lebih sulit dilakukan. Keadaan dimana industri menunggu jatuhnya korban sebelum melakukan tindakan pencegahan cukup umum dalam kondisi kerja yang melibatkan bahan kimia termutakhir. Global Chemical Outlook menyatakan bahwa dari berpuluh ribu bahan kimia yang beredar di pasaran, hanya sebagian yang telah dievaluasi secara mendalam untuk menentukan dampaknya terhadap kesehatan publik dan lingkungan. Dalam kondisi ini, industri menguasai lebih banyak informasi dibandingkan dengan regulator. Pengaturan yang paling memungkinkan dalam kondisi ini pun pada akhirnya adalah rezim pertanggungjawaban (liability), sehingga cukup sering kita melihat litigasi bahan beracun dan berbahaya berada di depan rezim pengaturan bahan kimia tertentu.

Litigasi berbasiskan dampak kesehatan ini pun memiliki kesulitannya sendiri. Sebuah penyakit mungkin terhubung dengan banyak faktor resiko. Misal, kanker ginjal dapat disebabkan oleh PFOA (perfluorooctanoic acid), merokok, obesitas, kadmium, trichloroethylene, beberapa jenis pestisida, warisan genetik, dan tekanan darah tinggi. Di sisi lain, satu bahan kimia dapat menyebabkan berbagai dampak. Misal, PFOA dapat menyebabkan tingginya kolestrol, penyakit tiroid, kanker testis, kanker ginjal, dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

Pertarungan di pengadilan pada perkara Hwang Yumi dan beberapa perkara lain tidaklah mudah. Namun, perjuangan dan keberanian orang-orang yang ditinggalkan untuk mencari keadilan di pengadilan menghasilkan beberapa preseden penting. Pada tahun 2014, Pengadilan Tinggi Seoul memutus bahwa leukimia akut Hwang Yumi terkait dengan pekerjaannya di pabrik semikonduktor Samsung. Ini menjadi preseden pertama bagi gugatan-gugatan berikutnya, dan melahirkan preseden-preseden yang cukup melegakan bagi para mantan pekerja industri elektronik yang mencari keadilan.

Kasus ini diikuti kasus-kasus lain, antara lain pengakuan hubungan penyakit dengan pekerjaannya pada kasus leukimia lain pada seorang pekerja semikonduktor MagnaChip di tahun 2013; limfoma pada seorang pekerja semikonduktor Samsung di tahun 2016 dan pekerja semikonduktor Hynix di tahun 2017; tumor otak pada seorang pekerja semikonduktor Samsung di tahun 2012; sklerosis ganda pada dua orang pekerja LCD Samsung di tahun 2017; kemandulan pada seorang pekerja semikonduktor Samsung di tahun 2017; kanker ovum pada seorang pekerja semikonduktor Samsung di tahun 2017; dan kasus-kasus lain yang terus bergulir oleh para pekerja pencari keadilan lainnya.

Cerita para pekerja semikonduktor ini bukanlah drama Korea, namun cerita nyata yang terhubung dengan elektronik kita – mulai dari laptop, televisi, hingga ponsel. Dan tidak hanya Samsung, pabrik-pabrik semikonduktor lain mungkin melakukan proses serupa dengan bahan kimia serupa. Bukan tidak mungkin standar kesehatan dan keselamatan kerja dari produk elektronik lainnya juga serupa – bahkan bisa jadi lebih buruk.

Pada level konsumen, mengetahui merupakan salah satu awal yang baik. Dorongan kolektif konsumen dapat menentukan arah perubahan produsen: apakah industri elektronik kita akan terus disubsidi dengan nyawa pekerjanya, atau memperbaiki “rahasia dagang”nya. (Quina)