ICEL

ICEL

Gema Zero Waste Models dalam International Zero Waste Cities Conference 2018

International Zero Waste Cities Conference 2018 (IZWCC 2018) sudah dimulai sejak hari Senin, 5 Maret 2018 di Kota Bandung, Jawa Barat. IZWCC 2018 dengan tagline “Sayangi bumi, bersihkan dari sampah” diselenggarakan dengan tujuan untuk menyebarluaskan pemahaman mengenai prinsip Zero Waste dalam pengelolaan sampah kepada berbagai pemangku kepentingan. Peserta IZWCC 2018 terdiri dari kelompok masyarakat sipil dan pejabat pemerintah daerah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Konferensi ini juga menghadirkan masyarakat sipil dan pejabat pemerintah dari negara-negara lain yang memiliki pengalaman dalam implementasi pendekatan Zero Waste di masing-masing negara.

Sesi pleno IZWCC terdiri dari dua sesi yang bertujuan untuk pengenalan awal mengenai konsep Zero Waste. Pada sesi pertama, Flor Berlingen, dari Zero Waste France, menyampaikan bahwa pendekatan Zero Waste tidak hanya menekankan pada pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang sampah, namun menekankan pula pada desain ulang suatu produk. Penekanan dari desain ulang suatu produk bermakna: jika suatu produk tidak dapat digunakan kembali, tidak dapat diubah menjadi kompos atau tidak dapat didaur ulang, maka kita seharusnya tidak membuat produk tersebut. Menggantungkan upaya pengelolaan sampah hanya pada upaya penggunaan ulang dan daur ulang sampah tidak akan cukup untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah.

Sesi kedua IZWCC menampilkan tiga pembicara yang membahas strategi Zero Waste di tiga daerah di tiga Negara berbeda, yakni di San Fransisco (Amerika Serikat), Kerala (India), dan San Fernando (Filipina). Strategi Pemerintah San Fransisco dalam implementasi Zero Waste adalah dengan menetapkan kewajiban pengomposan dan daur ulang pada tahun 2009 di mana tingkat ketaatan penduduk terhadap kewajiban ini mencapai angka 99%. Lebih lanjut lagi, Pemerintah San Fransisco juga menetapkan aturan yang melarang penggunaan produk berbahan Styrofoam, kantong belanja berbahan plastik, dan air minum dalam kemasan botol plastik.

Setelah sesi pleno usai di siang hari, para peserta IZWCC dari kelompok masyarakat sipil (Civil Society Forum) dan pejabat pemerintahan (City Managers and Leaders Forum) menjalani sesi diskusi secara terpisah. Civil Society Forum mengikuti tiga sesi diskusi, yakni: 1). Kampanye masyarakat terhadap solusi pengelolaan sampah yang keliru; 2). Memaksimalkan semangat anak muda untuk gerakan Zero Waste; dan 3). Menyelenggarakan Kegiatan Publik Bertemakan Zero Waste.

Sesi mengenai kampanye masyarakat terhadap solusi pengelolaan sampah yang keliru diawali dengan penyampaian pengalaman yang dialami masyarakat di Okhla, New Delhi, India dalam penolakan pembangunan insinerator. Pratibha Sharma dari Global Alliance for Incinerator Alternatives India (GAIA India) menyampaikan bahwa masyarakat di Okhla, New Delhi, India, sudah melakukan perlawanan terhadap pembangunan Insinerator sejak belasan tahun yang lalu. Masyarakat Okhla menolak pembangunan insinerator dengan mengajukan gugatan ke pengadilan dan kini gugatan tersebut sedang dalam proses pemeriksaan di Mahkamah Agung India. Pihak pemrakarsa pembangunan insinerator menyampaikan klaim yang keliru mengenai insinerator, misalnya klaim bahwa membakar sampah dapat menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah, emisi dari insinerator tidak berbahaya, dan sampah merupakan energi terbarukan. Margaretha Quina dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menyampaikan pengalaman masyarakat sipil di Indonesia dalam mengajukan permohonan uji materiil terhadap Peraturan Presiden No. 18 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Tujuh Kota (Perpres No. 18 Tahun 2016). Majelis Hakim di Mahkamah Agung mengabulkan permohonan pembatalan Peraturan Presiden tersebut dengan dasar pertimbangan prosedural dan substantif, yakni Perpres tersebut bertentangan dengan: 1). Prosedur izin lingkungan; 2). Prinsip pengelolaan sampah yang holistik dan berkesinambungan; dan 3). Perlindungan terhadap ancaman serius dan irreversible terhadap kesehatan manusia.

Sesi “Memaksimalkan semangat anak muda untuk gerakan Zero Waste” diisi dengan pengalaman gerakan Zero Waste yang digalang anak muda di Filipina dan Malaysia. Masyarakat sipil di Filipina menggalang kelompok pemuda dalam kampanye pendekatan Zero Waste dengan menyelenggarakan “Environmental Youth Camp” setiap tahunnya. Para pemuda tersebut melakukan kampanye pendekatan Zero Waste seperti kampanye untuk membawa alat makan dan minum ke sekolah, pemantauan pemilahan sampah di masing-masing sekolah, hingga terlibat dalam Olimpiade antar siswa dengan tema “Zero Waste”. Bahkan, para pemuda di Filipina ini aktif berpartisipasi dalam forum dengan pejabat pemerintahan kabupaten/kota yang membahas perihal permasalahan pengelolaan sampah.

Pengalaman masyarakat sipil di Filipina dan India dalam menyelenggarakan “Kegiatan Publik Bertemakan Zero Waste” menjadi sesi terakhir pada kegiatan hari pertama bagi Civil Society Forum. Masyarakat sipil di Filipina memanfaatkan hari-hari besar keagaaman atau hari besar nasional untuk menyampaikan pesan perihal prinsip Zero Waste. Masyarakat sipil di Filipina misalnya menyampakan kampanye perihal pengurangan sampah pada saat perayaan hari natal. Masyarakat sipil di Kerala, India melakukan hal serupa juga. Mereka memanfaatkan acara seperti turnamen internasional olah raga kriket yang diselenggarakan di India dan juga kegiatan keagamaan Hindu bernama “Tukad Pangalo”. Kegiatan Tukad Pangalo yang dihadiri sekitar lima juta penduduk pada tahun 2018 hanya menghasilkan sampah sebanyak 76 ton, sedangkan kegiatan yang sama sebelum tahun 2015 menghasilkan sampah sekitar 300 ton. Selain itu, masyarakat sipil di Kerala, India juga melakukan kampanye Zero Waste dengan melakukan pendidikan kepada para pemuda berumur antara 13 – 15 tahun. Para pemuda yang tergabung dalam “Green Army”, setelah mendapatkan pendidikan mengenai Zero Waste, melakukan kampanye mengenai pemilahan dan pengomposan kepada komunitas-komunitas yang ada di Kerala, India. Pendekatan ini berhasil menunjukan bahwa pengaruh kampanye Zero Waste yang disampaikan oleh para pemuda lebih didengar oleh komunitas-komunitas sehingga menghasilkan perubahan yang efektif di level komunitas. (Fajri)