ICEL

ICEL

Kedaulatan Pangan dari Bumi Kendeng

Suasana sembilan orang petani perempuan yang disemen kakinya saat mengelar aksi lanjutan di depan Istana Negara, Jakarta (13/4). Aksi tersebut sebagai penolakan terhadap tambang dan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jateng. (Sumber: Liputan6.com/Faizal Fanani)

 

“Ketika pohon terakhir telah ditebang, ketika ikan terakhir telah dimakan, dan ketika sumber air terakhir telah tercemari, barulah manusia sadar bahwa uang tak bisa dimakan” – Cree Indian Prophecy

Apa yang terlintas di benak anda ketika pertama kali mendengar kata Kendeng? Kawasan pertanian, kawasan karst, perjuangan ibu-ibu Kendeng menolak semen. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo!

Anda benar. Semua itu berkaitan dengan kedaulatan pangan di “Bumi Kendeng”. Apa itu kedaulatan pangan? Kedaulatan pangan lebih dari sekedar ketahanan pangan, kedaulatan pangan tidak hanya berbicara tentang tersedianya pangan, tetapi juga bagaimana pangan itu diproduksi. Kedaulatan pangan menghendaki pangan dapat diproduksi secara lokal, berkelanjutan dan sesuai dengan budaya dan kearifan lokal tanpa tekanan dari pasar global.

Salah satu pilar kedaulatan pangan adalah akses petani terhadap sumber daya produktif, baik itu lahan, air, bibit dan lingkungan yang mendukung pertanian. Petani Kendeng masih berjuang untuk merebut kembali akses tersebut.

Masih jelas di dalam ingatan penulis, bagaimana perjuangan para “Kartini Kendeng” berusaha menyuarakan persoalan mereka dari pemerintah tingkat daerah hingga pada tingkat nasional. Mulai dari menggelar aksi berjalan kaki sejauh 122 kilometer dari Sukolilo, Kabupaten Pati menuju Kota Semarang, Jawa Tengah. Menyembunyikan lesung di depan Istana Presiden, hingga nekat melakukan pengecoran kaki dengan semen sebagai bentuk protes terhadap pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang.

Kepala Divisi Tata Kelola Hutan dan Lahan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Rika Fajrini menyatakan bahwa penolakan petani  Kendeng ini sangat beralasan, karena kegiatan pertambangan akan mengakibatkan alih fungsi lahan  produktif pertanian secara besar-besaran. Di samping itu,  kegiatan pertambangan ini juga melibatkan tukar guling kawasan hutan yang masih berkonflik dengan masyarakat lokal. Fungsi hutan sebagai gudang keberagaman hayati (biodiversity) dan penyeimbang iklim tentu tidak dapat ditukargulingkan semudah itu.

Kendeng merupakan kawasan pegunungan kapur yang membentang di bagian utara Pulau Jawa. Pegunungan Kendeng mencakup dua provinsi yakni Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam kajian oleh Semarang Caver Association (SCA) dan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) serta dukungan Acintyacunyata Speleological Club (ASC) dan Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN “Veteran” Yogyakarta pada Oktober 2013 menunjukkan bahwa di kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara ada jejak kars dalam bentuk ponor, gua dan mata air.[1]

“Pertambangan untuk keperluan semen di pegunungan Kendeng selain mengakibatkan alih fungsi lahan besar-besaran, juga mengancam ketersediaan air yang tidak hanya menghidupi masyarakat Kendeng. Tapi juga mengairi puluhan ribu sawah produktif sekitarnya. Sudah tiga tahun sejak putusan Mahkamah Agung (MA) yang mencabut izin pabrik semen di Kendeng (Rembang), dan pada tahun 2017 hasil Kajian Lingkung Hidup Strategis (KLHS) merekomendasikan pegunungan Kendeng menjadi Kawasan Bentang Alam Karst yang dilindungi. Namun petani Kendeng masih menghadapi ketidakpastian. Gubernur Jawa Tengah kembali menerbitkan izin baru untuk perusahaan semen,” ujar Rika kembali.

Masih dalam paparan Rika, “Jika ingin konsisten dengan putusan MA dan hasil KLHS, harusnya tak ada lagi tambang di kawasan karst Kendeng. Wilayah-wilayah yang sudah terlanjur ditambang harus dipulihkan kembali. Akses petani kendeng terhadap lahan yang produktif, air yang cukup untuk irigasi dan lingkungan yang sehat bukan hanya kepentingan petani Kendeng sendiri, tapi juga menyangkut kepentingan bangsa Indonesia untuk menjamin kedaulatan pangannya.”

 

[1] Mongabay “Apa yang Hilang Jika Pegunungan Kendeng Di Tambang?” Diakses dari http://www.mongabay.co.id/2015/01/27/apa-yang-hilang-jika-pegunungan-kendeng-di-tambang/ pada 15 Oktober 2018 pukul 11.22 WIB