ICEL

ICEL

Kontaminasi Kadmium, Dampak Kesehatan dan Keamanan Pangan: Pembelajaran dari Cina

Tahun 2011, dunia dikejutkan dengan pemberitaan beberapa media terkemuka bahwa 12 juta ton beras di Cina terkontaminasi logam berat. Tak lama berselang, sebuah artikel ilmiah di Cina mengkonfirmasi bahwa 10% beras Cina mengandung kadmium dengan tingkat yang membahayakan kesehatan manusia; dan pada 2017 pada studi serupa angka ini meningkat menjadi 18%.

Kadmium merupakan salah satu karsinogen bagi manusia dan terhubung dengan kanker payudara, ginjal, paru-paru, pankreas, prostat dan kandung kemih; serta berdampak pada reproduksi. Kadmium digunakan dalam proses penyepuhan dengan listrik (electroplating), baterai, televisi dan laboratorium; selain menjadi bagian penting dalam pengoperasian reaktor nuklir. Dengan membludaknya industrialisasi di Cina, membludak pula dampak kadmium terhadap lingkungan. Bersama dengan beberapa logam berat lainnya, seperti arsenik, merkuri dan timbal, kadmium menyebabkan permasalahan kesehatan genting di Cina – terkenal sebagai fenomena “desa kanker” – sebelum akhirnya Cina mulai membenahi kebijakan pencegahan pencemarannya.

Salah satu pembelajaran mengenai dampak kadmium datang dari Desa Zhentou, yang dimulai dengan operasi pabrik kimia yang digadangkan “nir emisi.” Kelemahan penegakan instrumen pencegahan serta pengawasannya berkontribusi cukup besar terhadap munculnya dampak dari pabrik ini, sehingga kadmium, indium serta logam berat lainnya dibuang ke sungai yang merupakan air baku kota dibawahnya tanpa diolah.

Kematian pertama yang terkonfirmasi kaitannya dengan tingkat kadmium yang “secara serius melebihi” level aman pada manusia terjadi pada 2009, 5 (lima) tahun setelah pabrik tersebut beroperasi. Kejadian ini diikuti dengan pengujian pada 2.888 warga desa, yang menunjukkan bahwa kandungan kadmium pada 509 warga melebihi batas yang diperbolehkan hukum. Sepertiga pekerja di pabrik tersebut menunjukkan peningkatan kadar kadmium dalam darah. Pencemaran di area terkontaminasi juga menghancurkan mata pencaharian masyarakat karena tanaman tidak bisa tumbuh, dan konsumsi pangan dan air bersih desa tersebut harus diantarkan dengan truk dari desa lain.

Dalam permasalahan Desa Zhentou ini, setidaknya terdapat tiga tindakan yang kemudian dilakukan aparatur daerah. Pertama, penutupan pabrik yang menyebabkan pencemaran kadmium dan logam berat lainnya. Kedua, pemrosesan pidana terhadap pemilik dan jajaran manajemen pabrik, yang berujung pada pemenjaraan pemilik/direktur dan manajer utama pabrik tersebut. Ketiga, pemerintah melakukan pemulihan lahan terkontaminasi – sekalipun kemudian pemulihan yang dilakukan dengan standard buruk ini malah mengakibatkan semakin parahnya pencemaran ke sungai. Pemulihan ini kemudian diulangi setelah LSM lokal melakukan pengujian dan karakterisasi pencemar dan menyampaikan kepada pemerintah bukti-bukti yang menunjukkan perlunya pemulihan kedua.

Tidak hanya di tingkat lokal, di tingkat nasional pencemaran kadmium telah menghasilkan advokasi lanjutan tersendiri. Salah satu advokasi yang sedang berjalan adalah tuntutan untuk dimasukannya pengujian level kadmium di standar nasional keamanan pangan Cina. Selain itu, pengendalian pencemaran kadmium dari sumber pencemarnya serta internalisasi biaya lingkungan dan kesehatan juga merupakan kampanye pada tingkat kedetailan yang lebih sulit, namun tidak bisa tidak dilakukan.

Desa kanker dan dampak kesehatan dari industrialisasi yang ceroboh merupakan pembelajaran yang selayaknya tidak luput dalam kurikulum pembangunan Indonesia. Belajar dari negeri Cina tidak hanya untuk membangun, namun juga untuk mencegah dan mengelola dampak dengan lebih bijaksana. (Quina)