ICEL

ICEL

Menyelamatkan Nyawa Petani: Pelarangan Paraquat di Vietnam

Pelarangan herbisida di negeri agraris tentu bukan pilihan politis yang mudah. Vietnam, sebuah negeri agraris yang juga memiliki sejarah gelap dengan bahan kimia, tahun 2017 lalu mengambil langkah berani untuk melarang sebuah herbisida yang digunakan secara luas di negeri tersebut: paraquat.  Melalui keputusan Menteri Pertanian no. 287/QD-BNN-BVTV pada Februari 2017, paraquat harus dihapuskan secara berkala dalam waktu 2 (dua) tahun, baik perdagangan maupun penggunaannya sebagai herbisida.

Paraquat adalah nama umum untuk herbisida yang membunuh gulma dengan reaksi oksidasi dan membendung reaksi fotosintesisnya. Di berbagai negara agraris, paraquat umum digunakan di tanah terlantar dan perkebunan jagung, padi, kapas, kedelai, jeruk, kopi, tebu, kelengkeng, karet, pisang dan mangga.

Namun, paraquat juga memiliki efek membunuh pada manusia, dimana satu tegukan dapat menyebabkan kematian. Preseden yang cukup terkenal dalam pelarangan paraquat terjadi pada 2004 di European Union, dimana negara-negara Skandinavia membanding keputusan EU yang mengizinkan penggunaan paraquat sebagai herbisida. Negara-negara tersebut menyampaikan bukti-bukti ilmiah mengenai indikasi neurotoksin yang berhubungan dengan paraquat, dan penelitian mengenai hubungan paraquat dengan penyakit Parkinson.

Hingga kini, paraquat telah dilarang di setidaknya 32 negara karena dampak kesehatannya. Menariknya, latar belakang sebagian besar pelarangan di negara berkembang justru bukan karena dampak kronisnya, melainkan karena tingginya penyalahgunaan paraquat untuk bunuh diri. Di Vietnam, diperkirakan 1.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat keracunan paraquat, 80% akibat bunuh diri dengan menenggak bahan ini. Di Korea Selatan, angka bunuh diri di kalangan petani menurun tajam setelah dilarangnya paraquat.

Pelarangan paraquat di Vietnam bukanlah pertama kalinya. Bahan kimia ini tidak tercatat sebagai herbisida yang boleh digunakan sebelum tahun 2002. Sekarang, paraquat di Vietnam tercatat dengan lebih dari 45 nama dagang, yang tumbuh perlahan dari hanya 1 nama dagang pada tahun 2002.

Setidaknya 3 (tiga) organisasi anggota Pesticide Action Network Asia Pacific (PAN-AP) di Vietnam berperan dalam pengambilan keputusan pelarangan paraquat ini. Bersama petani, 3 organisasi ini melakukan pengumpulan data mengenai pengetahuan, tindakan dan praktek para petani dalam menggunakan paraquat. Analisis dari survey, diskusi dan wawancara yang melibatkan 330 petani ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah di tingkat nasional dan internasional. Publikasi ini ditindaklanjuti dengan lokakarya di tingkat lokal, nasional dan regional, dengan melibatkan ilmuwan, dokter, pemerintah daerah dan nasional, para petani, pembeli produk pangan, siswa, dan masyarakat sipil. Salah satu hal yang cukup krusial dalam kesuksesan PAN-AP menjembatani ilmu pengetahuan dengan keputusan politis ini adalah kerja sama secara langsung dengan Kementerian Pertanian Vietnam, yang mendukung pengambilan keputusan berbasiskan bukti ilmiah.

Mengedepankan ilmu pengetahuan dalam pengambilan keputusan pelarangan herbisida berbahaya bukan tanpa tantangan dari industri. RCRD, salah satu organisasi yang melakukan riset ini, pernah ditawarkan dukungan dari CropLife untuk melakukan riset mengenai dampak sosial-ekonomi dan penghidupan petani setelah tidak lagi menggunakan beberapa tipe herbisida.

Kerja-kerja PAN-AP tidak berhenti di sini. Memastikan implementasi pelarangan paraquat dalam 2 (dua) tahun ke depan adalah pekerjaan rumah utama yang kini menjadi prioritas. Namun, memastikan tersedianya alternatif dari pelarangan paraquat, seperti diadopsinya agroekologi secara masif, juga perlu dilakukan segera. Selain itu, memastikan pengelolaan dan pembuangan yang aman atas produk-produk paraquat yang telah dibuat dan beredar di pasaran merupakan agenda yang tak kalah penting.

Di Indonesia, paraquat masih dipergunakan secara luas sebagai pestisida yang diizinkan. Sayangnya, dalam pertemuan-pertemuan internasional, pemerintah Indonesia mengambil posisi menentang pelarangan paraquat. Sayangnya, posisi ini tanpa didasari informasi memadai mengenai penggunaan paraquat, dampaknya, serta alternatif yang tersedia. Indonesia seharusnya mampu mencontoh Vietnam, dan memulai menentukan pengambilan keputusannya dengan pengumpulan bukti-bukti ilmiah mengenai paraquat – serta pestisida sangat beracun yang lain. (Quina)