ICEL

ICEL

Nature X Youth: Ajakan Mencintai Lingkungan Kepada Generasi Milenial

Sabtu (16/03/2019) lembaga World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menyelenggarakan acara #NatureXYouth untuk melakukan diskusi dan solusi dari para milenials untuk alam, dalam diskusi ini WWF sekaligus melakukan peluncuran website WWF Indonesia dengan wajah baru.

Acara tersebut banyak dihadiri oleh anak-anak muda dari berbagai komunitas, diskusi yang berlangsung sangat apik, mampu membuat anak-anak muda untuk memberikan solusi yang nyata untuk menjaga bumi. Salah satunya ajakan stop menggunakan kemasan plastik sekali pakai, membawa botol minuman sendiri, membawa wadah makanan sendiri dan tolak sedotan.

Diskusi ini dibagi dalam beberapa sesi antara lain, Nature and Nature Collaboration, Nature and Life Style dan eco futures and youth. Narasumber yang dihadirkan dari tiga sisi ini, merupakan anak-anak muda yang kreatif inovatif dan memiliki keingan yang kuat untuk menyalamatkan bumi, diantaranya adalah Nadine Alexandra, Robi Navikula, Davina Veronika, Kleting Titi Wigati, Zigia dan Gita Syahrani.

Hal yang paling menarik dalam diskusi ini adalah ketika Robi Navikula bercerita bagaimana ia dan teman-teman pegiat lingkungan lainnya mengedukasi warga Bali untuk tidak lagi menggunakan sedotan plastik dan beralih kepada kemasan tradisional yang biasanya masyarakat Bali gunakan. Yakni dengan menggunakan daun pisang dan wadah dari anyaman daun kelapa. Selain itu Robi juga mengajak peserta untuk menggaungkan kalimat bawa botol, bawa wadah, stop kantong plastik dan tolak sedotan. Acara sesi diskusi dari Robi ditutup dengan film dokumenter yang ia buat bersama para pegiat lingkungan lainnya dengan judul Pulau Plastik yang dapat diakses disini (https://www.youtube.com/watch?v=4xUAUWcPq74 ). Film Pulau Plastik merupakan rangkaian dari 8 seri film dokumenter yang menggambarkan sampah plastik menjadi ancaman yang nyata dan bagaimana mereka akan mengatasinya. Dan beruntung saat ini pemerintah Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai dan Peraturan Walikota Denpasar Tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Dilain sisi pembahasan, ada Kleting Titi Wigati dalam Nature and Life Style menyatakan bahwa setiap memproduksi satu baju membutuhkan satu galon air bersih, dan bayangkan jika setiap hari indusrti textile menghasilkan baju dalam tiap kodinya berapa jumlah air galon yang harus dikeluarkan. “Kami selalu menggunakan bahan daur ulang untuk membuat sebuah produk/pakaian baru,  profesi kami memulung kain bekas yang tak terpakai di gundang-gundang textil dan kami merancangnya kembali agar masih layak untuk digunakan,” ujar Kleting.

Selain Kleting, ada Zigia sebagai narasumber yang cukup menarik perhatian penulis. Sebab bersama perusahaan startup, Evoware, Zigia menciptakan gelas yang dapat dimakan maupun didaur ulang. Dan bahkan menciptakan wadah kopi yang ketika dicelupkan kedalam air panas, wadahnya ikutan larut kedalam air tersebut. Bahan baku dari wadah yang mereka ciptakan ini berasal dari rumput laut. Wadah gelas yang mereka ciptakan dapat memiliki beragam rasa, mulai dari mint hingga memiliki rasa green tea.

Lanjut Zigia, produk yang mereka hasilkan dilirik oleh perusahaan produksi mie yang terkenal di Indonesia, untuk mengganti kemasan bumbu mie yang tidak ramah lingkungan. Sayangnya karena produksi Evoware terbatas pada bahan baku kerjasama tersebut terpaksa harus mereka tolak. “Untuk menjaga kualitas bahan baku tetap baik dan berlimpah, kami memberdayakan masyarakat di pesisir pantai dengan memberikan edukasi seputar penanganan dan pemeliharaan lumput laut, dan koperasi masyarakat,” ujar Zigia Kembali. (Dona)