ICEL

ICEL

Pendekatan Strategis terhadap Pengelolaan Bahan Kimia Internasional (EN: “Strategic Approach to International Chemical Management” – SAICM)

Bagian 1: Pengantar

SAICM (dilafalkan “sai-kem”) jelas bukan merupakan akronim yang ramah di lidah, apalagi jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. SAICM bukan konvensi, bukan juga protokol; namun memiliki signifikansi yang cukup besar dari sisi politis jika dilihat dari proses pendiriannya. Dalam hukum internasional, SAICM adalah soft law; yang artinya, SAICM adalah kerangka kebijakan yang tidak harus, namun dapat menjadi panduan bagi negara-negara yang mendirikan dan menandatangani deklarasinya. SAICM lahir dari dorongan para kepala negara, yang melahirkan Deklarasi Dubai tentang Pengelolaan Bahan Kimia Internasional yang disepakati menteri-menteri lingkungan hidup, kepala delegasi dan masyarakat sipil di Konferensi Internasional tentang Pengelolaan Bahan Kimia (Februari 2006). Hingga kini, SAICM terdiri atas 175 negara dan 85 organisasi non-pemerintah, yang mencakup perwakilan dari industri dan masyarakat sipil.

SAICM bukanlah kerangka kebijakan dalam isolasi, melainkan sebagai bagian dari, dan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Karena itulah visi SAICM yang tertuang dalam deklarasi mempunya kerangka waktu yang disesuaikan dengan SDGs, yaitu pada saat adopsi pertamanya pada 2020; dan akan terus diperbaharui sesuai dengan evaluasi dan pemutakhiran terhadap SDGs. Visi SAICM yang sekarang tertuang dalam Deklarasi Dubai adalah,

“[…] untuk mencapai pengelolaan yang baik terhadap bahan-bahan kimia selama daur hidupnya sehingga, pada 2020, bahan kimia digunakan dan diproduksi dengan cara yang menyebabkan pengurangan akibat buruk yang signifikan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.”

Dalam menyepakati pembaruan visi dan tujuan ini pasca 2020, dilakukan beberapa rangkaian pertemuan di tingkat global. International POPs Elimination Network (IPEN),  suatu jejaring masyarakat sipil yang mengawal SAICM sejak kelahirannya, telah membuat suatu usulan mengenai bagaimana visi pasca 2020 dapat dirumuskan, beserta tujuan yang terukur dan beberapa isu yang berkaitan dengan SAICM – termasuk pembiayaan, hubungan kemananan kimia dengan hak asasi manusia, dan menghijaukan bidang keilmuan kimia.

Instrumen lain yang cukup penting dalam memastikan tercapainya tujuan di atas adalah Rencana Aksi Global (Global Plan of Action, hlm. 31), yang terdiri atas tindakan-tindakan untuk mendukung pengurangan resiko, peningkatan pengetahuan dan informasi, penguatan tata kelola (institusi, hukum dan kebijakan), peningkatan pembangunan kapasitas, penanganan lalu lintas ilegal, serta praktek umum yang lebih baik. Penambahan kegiatan dalam GPA akan disetujui secara berkala, dengan tambahan yang telah disetujui direkam dalam dokumen ini.

Terdapat beberapa isu strategis yang menjadi fokus SAICM, dengan 8 (delapan) isu yang telah disetujui dalam resolusi, yaitu:

  1. Timbal dalam cat (lead in paint)
  2. Bahan kimia dalam produk (chemicals in products)
  3. Bahan berbahaya dalam lingkar hidup produk listrik dan elektronik (hazardous substance within the life cycle of electrical and electronic products)
  4. Nanoteknologi dan nanomaterial yang diproduksi (nanotechnology and manufactured nanomaterials)
  5. Bahan kimia pengganggu endoktrin (endoctrine-disrupting chemicals)
  6. Pencemar farmasi yang persisten di lingkungan (environmentally persistent pharmaceutical pollutants)
  7. Bahan kimia perfluorinasi dan transisi ke alternatif yang lebih aman (perfluorinated chemicals and transition to safer alternatives); serta
  8. Pestisida yang sangat berbahaya (highly hazardous pesticides)

Resolusi terhadap topik berarti pengakuan dari negara-negara bahwa isu-isu tersebut memerlukan respon kebijakan yang layak, dengan prioritas tindakan-tindakan kerjasama yang disepakati bersama. Selain isu-isu yang telah disetujui di atas, terdapat 5 (lima) isu lain yang diperjuangkan IPEN agar dapat disetujui, mencakup:

  1. Nirsampah (zero waste)
  2. Hak untuk tahu di tempat kerja (workplace right to know)
  3. Agroekologi (agroecology)
  4. Plastik (plastics)
  5. Perempuan dan keamanan kimia (women and chemical safety)

Baca Juga : Bagian 2: Pengelolaan Bahan Kimia, Beban Penyakit dan Prioritas Politik

Di Indonesia, titik fokal nasional SAICM berada dalam naungan Direktorat Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; dengan mandat koordinasi dengan beberapa instansi terkait, termasuk Kementerian Kesehatan (Dir. Kesehatan Lingkungan), Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perindustrian. Akses terhadap fokal poin adalah sebagai berikut:

 

Ir. Yun Insiani, M.Sc.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya

Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24

Kebon Nanas, Jakarta Timur 13410

Tel: +6221-8580067/68

www.menlh.go.id

 

(Quina)