ICEL

ICEL

Polusi Udara di Jabodetabek : Bahaya Kesehatan dan Kematian yang Terabaikan

Pada Selasa, 4 April 2017 yang lalu, Penulis sebagai perwakilan dari ICEL menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh Greenpeace Indonesia dan mengangkat tema “Polusi Udara di Jabodetabek : Bahaya Kesehatan dan Kematian yang Terabaikan”. Pada diskusi ini, disampaikan bahwa kualitas udara di Indonesia maupun daerah Jabodetabek, khususnya, saat ini sudah sangat memprihatinkan. Buruknya kualitas udara ini tidak lepas dari semakin meningkatkan kegiatan industri yang tidak ramah lingkungan serta jumlah kendaraan bermotor yang sudah tidak terkontrol lagi. Menanggapi buruknya kualitas udara ini, Spesialis penyakit jantung dan kardiologis, Djoko Maryono, memaparkan bahwa hal ini perlu mendapat perhatian lebih karena dapat berpengaruh terhadap meningkatnya pengidap penyakit Atherothrombosis[1]. Berdasarkan data dari WHO Geneva (2002), didapatkan fakta bahwa Atherothrombosis ini merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia – bahkan mengalahkan angka kematian karena HIV/AIDS dan Kanker sekalipun. Djoko menambahkan bahwa salah satu penyebab utama penyakit Atherothrombosis di Asia Pasific tersebut adalah permasalahan polusi udara.

Dari berbagai jenis polutan yang terkandung dalam polusi udara tersebut, satu jenis polutan yang sangat berbahaya adalah PM 2.5. Dikatakan berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil. Bahkan saking kecilnya ukuran PM 2.5, partikel yang berukuran kira-kira 1/30 dari ukuran rambut manusia tersebut dapat masuk ke organ tubuh yang lebih dalam dan dapat mengakibatkan penyakit paru-paru kronis, infeksi pernafasan akut, pecahnya pembuluh darah, hingga stroke. Lebih jauh, sumber dari PM 2.5 ini adalah berasal dari hasil pembakaran, termasuk pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan juga kegiatan industri. Beberapa studi terkait dampak PM 2,5 juga telah dijalankan. Laporan yang dirilis oleh Spain Heart Institution adalah salah satunya. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa setidaknya 1 dari 4 orang di kota besar meninggal akibat PM 2.5. Selain itu, menurut Marie Pederson, adanya PM 2.5 juga membawa pengaruh buruk terhadap ibu hamil. Apabila ibu hamil secara terus menerus menghirup PM 2.5, dapat mengakibatkan pada misalnya tekanan darah ibu menjadi tinggi dan juga risiko pada kesehatan bayi. Risiko tersebut, misalnya, yaitu ukuran bayi yang menjadi sangat kecil. Lebih parahnya lagi, adanya PM 2.5 ini dapat berakibat ke chronic silent inflammation, dimana terjadi pembentukan plak, penyempitan pembuluh darah, dan secara “diam-diam” pembuluh darahnya akan pecah. Hal ini dapat berujung ke penyakit jantung dan kardiovaskular.

Di daerah Jabodetabek sendiri, tingkat PM 2.5 sudah diatas ambang batas yang ditetapkan oleh WHO. Secara khusus, WHO telah menetapkan baku mutu udara ambien untuk PM 2.5 adalah 25 µg/m3 dalam 24 jam. Greenpeace Indonesia telah melakukan pemantauan kualitas udara di beberapa daerah di Jabodetabek dan per tanggal 28 Februari 2017, menemukan beberapa daerah yang memiliki tingkat PM 2.5 yang jauh di ambang batas yang ditetapkan WHO tersebut. Sebut saja di daerah Gandul, Depok yang mencapai 132 µg/Nm3 , di Warung Buncit yang mencapai µg/Nm3 atau bahkan di daerah Cibubur yang mencapai 225 µg/Nm3 . Disamping permasalahan pelampauan baku mutu ini, Bondan juga mengatakan bahwa perlu adanya pengetatan dalam regulasi terkait PM 2.5 ini di Indonesia. Apabila ditinjau dari standar baku mutu udara ambien nasional yang tercantum dalam PP No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, ditemukan bahwa baku mutu udara untuk PM 2.5 adalah 65 µg/Nm3 dalam 24 jam. Hal ini tentu berbeda jauh dengan standard WHO. Saran senada juga disampaikan oleh Djoko Maryono, bahwa diperlukan adanya pengaturan terkait udara yang lebih ketat untuk mencapai udara yang lebih bersih.

Menghadapi kualitas udara yang semakin buruk, khususnya di DKI Jakarta, Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih, mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki berbagai strategi untuk mengatasinya. Saat ini, DKI Jakarta sendiri telah melaksanakan kegiatan pemantauan udara ambien dengan 2 metode pemantauan yakni : a) manual aktif, yang menghasilkan data harian, dan b) otomatis, yang menghasilkan data per 30 menit. Lokasi pemantauannya-pun telah tersebar di berbagai tempat yakni untuk pemantauan manual aktif telah tersebar di 9 titik dan untuk pemantauan otomatis ada di 5 titik meliputi Bundaran HI, Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya, dan Kebun Jeruk. Hasil dari pemantauan kualitas udara ini juga dipublikasikan melalui website Jakarta Smart City maupun website Dinas Lingkungan Hidup. Sekalipun begitu, Bondan juga mengkritisi bahwa jumlah titik pemantauan ini masih terasa kurang untuk memantau tingkat kualitas udara, khususnya terkait persebaran PM 2.5 tersebut. Selain itu, beberapa program juga telah dilancarkan untuk mengurangi polusi udara di daerah DKI Jakarta. Beberapa program tersebut meliputi pemberlakuan uji emisi, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan khususnya untuk busway, pengendalian emisi cerobong seperti yang telah dilakukan di Cibubur, penambahan ruang terbuka hijau, hingga penggunaan tenaga gas sebagai pembangkit listrik yang disinyalir ramah lingkungan. Tidak hanya itu, Andono juga menyadari bahwa sumber utama polusi udara di DKI Jakarta adalah permasalahan transportasi. Untuk itu, pemberlakuan car free day dan juga pemasyarakatan penggunaan transportasi publik untuk mengurangi jumlah kendaraan bermotor juga menjadi program yang digagas untuk mengatasi masalah polusi udara di DKI Jakarta tersebut. [Grita Anindarini]

 


[1] Atherothrombosis adalah penyakit jantung iskemik atau yang lebih dikenal dengan penyakit jantung koroner, penyakit cerebrovascular (berkaitan dengan penyakit pembuluh darah di otak atau gangguan suplai darah ke otak), inflammatory heart disease dan darah tinggi