ICEL

ICEL

KLHK Harus Jatuhkan Sanksi Administrasi Paksaan Pemerintah, Kepada Perusahaan Yang Cemari Sungai Cileungsi

Foto: Dok ICEL

Jakarta, (29/08/2018). Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan pipa pembuangan dari salah satu pabrik tekstil didekat sungai Cileungsi, yang belakangan airnya menjadi hitam pekat.

Pipa itu ditemukan kemarin (28/08/2018) ketika tim menelusuri aliran sungai dari hulu, yakni dibawah jembatan Wika, Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Tempo, Edisi 29 Agustus 2018)

Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran Margaretha Quina menyatakan bahwa pada musim kemarau sebagian besar sungai yang ada di Indonesia sudah tercemar berat. Artinya, daya tampung sungai untuk menerima air limbah sudah terlampaui.

Identifikasi titik buangan ilegal merupakan langkah pertama yang dapat dilakukan. Jika terbukti ada pelanggaran, ini merupakan alasan yang cukup bagi KLHK untuk menjatuhkan sanksi administrasi paksaan pemerintah. Namun, langkah ini harus juga diikuti dengan reformasi izin supaya beban cemaran yang diizinkan menyesuaikan dengan daya tampung sungai. Jika tidak dilakukan, masyarakat berhak menggugat.

Di Sumedang, izin Pembuangan air limbah oleh PT Kahatex sudah pernah digugat masyarakat dan dibatalkan pengadilan. Alasan pembatalannya adalah izin diberikan kendati sungai Cikijing sudah cemar berat. Padahal, jika daya tampung sungai telah terlampaui, izin tidak dapat diberikan lagi. Mungkin ini juga perlu dilakukan di Cileungsi, yang kondisinya juga sudah cemar berat.

Menyorot Suara yang Tak Terdengar

Di Serang, Banten, warga petambak udang dalam 20 tahun terakhir menjadi saksi menurunnya kualitas air seiring dengan pembangunan pabrik tekstil di dekat daerah tersebut. Di Thailand, pada 2012 terjadi ledakan di pabrik Bangkok Synthetics yang menewaskan 11 orang dan melukai 129 orang. Disusul dengan bocornya limbah kimia di pabrik Aditya Birla Chemicals, 138 orang masuk rumah sakit. Pemerintah tidak memberi informasi apakah warga harus tinggal atau mengungsi.

Kasus lain, warga Desa Khoroo Nomor 13 di luar Ulaanbaatar, Mongolia, yang berkemah di daerah ini pada musim panas dan musim dingin kehilangan lima mata air dan harus mengebor air untuk mendapat air bersih. Sungai telah berubah berwarna abu-abu dan bau. Warga bergantung pada ternak dan berkebun sayur serta buah. Air bersih adalah segalanya.

Potret-potret tentang pencemaran dan ancamannya itu tertulis dalam laporan organisasi riset World Resources Institute (WRI) pada Agustus 2017 yang bertajuk ”Thirsting for Justice, Transparency and Poor People’s Struggle for Clean Water in Indonesia, Mongolia, and Thailand”.Di negara-negara itu, warga miskin di sepanjang aliran sungai menggunakan air sungai untuk mandi, memasak, mandi, serta keperluan peternakan dan bertani. Kondisi serupa di sepanjang DAS Citarum (Kompas, 4/1). Dalam penelitian itu, WRI menggandeng The Indonesian Center for Environmental Law, Walhi/Friends of The Earth Indonesia, dan MediaLink.

Baca SelengkapnyaMenyorot Suara yang Tak Terdengar