ICEL

ICEL

Kasus Tumpahan Minyak Montara: 10 Tahun, Satu Gugatan

oto yang dirilis PTTEP Australasia tampak kobaran api di anjungan pengeboran West Atlas (kanan) dan platform kepala sumur (wellhead) (kiri) sekitar 250 kilometer barat laut pantai Australia, 2 November 2009.

Pada 21 Agustus 2009, anjungan pengeboran minyak milik PTT Exploration and Production (PTTEP) Australasia meledak dan terbakar. Kini, sepuluh tahun sesudah bencana itu, hanya ada satu gugatan ke pengadilan yang dilayangkan petani.

Anjungan sumur minyak Montara berjarak 700 km dari Kota Darwin, Australia Utara. Lokasi itu, juga hanya berjarak 250 km ke Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur. Saat meledak dan terbakar pada 2009, anjungan itu menumpahkan 23 juta liter minyak selama 74 hari dari Agustus hingga November.

Tumpahan minyak mentah menyebar ke wilayah seluas 92 kilometer persegi dan merusak pesisir di 13 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur (NTT), serta menghancurkan kehidupan nelayan serta petani rumput laut.

Montara dioperasikan oleh PTTEP Australasia, anak perusahaan PTTEP, perusahaan eksplorasi migas asal Thailand.

Masyarakat setempat telah berulangkali meminta pemerintah pusat bertindak. Namun hingga sepuluh tahun lewat, lebih banyak diskusi yang dilakukan dibanding gugatan hukum atau upaya mediasi ganti rugi.

Diminta tanggapannya, Kepala Divisi Pesisir dan Maritim, Indonesian Center for Environment Law (ICEL), Ohiongyi Marino mengaku heran dengan kenyataan ini. Menurutnya, pemerintah memang sempat mengajukan gugatan, tetapi kemudian ditarik dengan alasan kedudukan hukum tergugat yang salah.

“Lalu kemudian, mengapa pemerintah tidak mengajukan gugatan lagi sendiri? Itu yang patut kita pertanyakan. Mengapa pemerintah yang sudah mengajukan gugatan, tiba-tiba menarik, lalu tidak mengajukan gugatan ulang, dengan memperbaiki kesalahan yang ada,” kata Marino kepada VOA.

Baca SelengkapnyaKasus Tumpahan Minyak Montara: 10 Tahun, Satu Gugatan