ICEL

ICEL

Timbal dalam Cat: Menunggu Regulasi “Level Aman”

Bagian 3 :

Setelah penghapusan bensin bertimbal terimplementasi secara berkala di level global, cat enamel merupakan salah satu sumber paparan timbal (Pb) terakhir ke manusia. Cat enamel masih digunakan dalam beberapa hal yang sangat dekat dengan keseharian kita, atau anak-anak kita. Di mainan anak-anak, taman kanak-kanak, cat tembok warna warni, penanda jalan, bangku taman, dan lain-lain; yang memberi akses pada timbal untuk terinhalasi dalam dosis rendah namun jangka panjang.

Sekalipun WHO mengakui bahwa tidak ada level aman untuk paparan timbal, penelitian UNEP (2016) menunjukkan bahwa level aman timbal dalam cat enamel yang diterima secara global berada pada 90 ppm. Sayangnya, di Indonesia belum ada regulasi yang membatasi level timbal dalam cat enamel. Sekalipun telah memiliki berbagai SNI yang membatasi kadar timbal dalam berbagai cat, cat enamel luput diatur dan baru dinaungi SNI sukarela pada tingkat 600 ppm. Level ini hampir 7x lebih tinggi dari level aman yang ditetapkan WHO.

Dengan status SNI sukarela, produsen dapat mencantumkan label SNI pada kemasan barang. Artinya, cat yang tidak memenuhi kadar timbal di bawah 600 ppm seharusnya tidak boleh mencantumkan label ini. Akan tetapi, tidak ada konsekuensi hukum yang dapat diberlakukan bagi industri yang melanggar SNI sukarela.

Padahal, dalam hal SNI berkaitan dengan kepentingan keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan/atau pertimbangan ekonomis, instansi teknis – dalam hal ini Kementerian Perindustrian – dapat memberlakukan secara wajib “sebagian atau seluruh spesifikasi teknis dan/atau parameter dalam SNI.” Hal ini diatur dalam Pasal 22 ayat (3) PP No. 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Jika SNI telah diberlakukan sebagai standar wajib melalui Peraturan Menteri, produksi atau peredaran barang yang tidak memenuhi standar SNI dilarang. Pelaku usaha yang masih memproduksi atau mengedarkan barang yang tidak sesuai standar wajib dapat dikenakan sanksi administratif atau pidana.

Dalam implementasinya, level timbal dalam cat yang beredar di pasaran menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Penelitian yang dibuat Balifokus bersama dengan IPEN pada tahun 2013 menunjukkan 77% sampel cat enamel yang diteliti menunjukkan kadar timbal di atas level aman, dan 80% diantaranya mengandung timbal di atas standar sukarela Indonesia. Salah satu hal yang mencengangkan dari penelitian tersebut adalah tingginya jumlah sampel yang mengandung timbal sangat tinggi, yaitu di atas 10.000 ppm, yang artinya sangat berbahaya. Sebanyak 33% dari total cat yang beredar di pasaran berada pada level ini.

Ketika penelitian ini diulangi pada tahun 2015, tren ini tidak banyak berubah: 83% dari keseluruhan sampel yang mengandung timbal melebihi level aman, dan 93% dari antaranya melebihi standar sukarela Indonesia. Jumlah sampel yang mengandung timbal pada tingkat sangat berbahaya makin mencengangkan, yaitu mencapai 41%.

Hal ini seharusnya menjadi bahan refleksi pemerintah – tidak hanya Kemenperin, namun juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang merupakan focal point berbagai konvensi internasional terkait bahan kimia; serta Kementerian Kesehatan, yang menyandang mandat pengendalian beban penyakit serta kesehatan lingkungan. Pemberlakuan standar sukarela tidak menunjukkan signifikansi perubahan perilaku pada produsen cat enamel. Di tahun 2013, hanya 38% cat enamel yang memenuhi standar ini; yang menurun persentasenya menjadi 22% pada 2015.

Kerjasama internasional dan asistensi teknis dari berbagai badan internasional tersedia, masyarakat sipil telah mengambil bagiannya dalam melakukan pengujian sampel. Tinggal menunggu niat politis Kemenperin, KLHK dan Kemenkes untuk memajukan bola mengatur level aman timbal dalam cat enamel. (Quina)